Manusia yang Tidur: Sindiran Tajam untuk Mereka yang Lupa Tujuan Hidup

Bagikan Keteman :


Ada sebuah sindiran tajam dalam khazanah Islam yang mengguncang kesadaran manusia:

“Manusia itu tidur, dan mereka baru terjaga ketika mati.”
(Hikmah Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.)

Kalimat singkat ini seolah sederhana, namun sesungguhnya mengandung tamparan spiritual yang sangat dalam. Ia menyingkap kenyataan getir bahwa banyak manusia hari ini hidup tanpa kesadaran, sibuk tanpa arah, bergerak tanpa makna, dan berjuang tanpa tahu untuk siapa mereka hidup.


1. Hidup yang Berjalan Tanpa Kesadaran

Kita hidup di dunia yang riuh dan sibuk, tetapi sesungguhnya banyak di antara kita sedang tidur dalam kehidupan.
Tidur bukan berarti mati, tapi kehilangan kesadaran akan makna hidup.
Orang yang “tertidur” tetap berjalan, bekerja, bahkan beribadah — namun semuanya dilakukan tanpa jiwa penghambaan.

Ia mengejar kesuksesan, pangkat, harta, dan kenikmatan, seolah-olah hidup ini adalah tentang memiliki sebanyak-banyaknya, bukan menjadi yang terbaik di sisi Allah.
Ia tertidur di bawah bayangan panjang ambisi duniawi yang menipu — dan baru akan terbangun ketika kematian membuka matanya pada kenyataan abadi.


2. Dari Hamba Tuhan Menjadi Hamba Nafsu

Manusia diciptakan untuk satu tujuan mulia:

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Namun betapa banyak manusia yang melupakan tujuan ini.
Ia hidup bukan sebagai hamba Tuhan, melainkan hamba keinginan.
Segala keputusan diambil berdasarkan nafsu, bukan petunjuk Ilahi.
Ia menuruti keinginan dunia, bukan kehendak Allah.
Dan di situlah awal mula tidur panjang spiritual itu terjadi.

Mereka hidup untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan hakikat dirinya — bekerja tanpa arah ibadah, berjuang tanpa niat pengabdian, dan mencintai dunia tanpa batas.
Padahal semua itu hanyalah mimpi indah yang sementara.


3. Mereka yang Terjaga

Sebaliknya, mereka yang terjaga bukanlah orang yang banyak bicara tentang agama, tapi mereka yang menjalani hidup dengan kesadaran penuh akan Tuhan.
Mereka sadar bahwa setiap detik hidup adalah kesempatan untuk beribadah.
Tidur pun mereka niatkan agar tubuh kuat beribadah.
Makan mereka niatkan agar dapat menunaikan amanah.
Bekerja mereka jadikan sarana menafkahi keluarga secara halal.

Hidup mereka bukan terpecah antara dunia dan akhirat, karena dunia mereka arahkan sepenuhnya untuk akhirat.
Mereka tidak menunggu mati untuk sadar, sebab mereka telah terjaga bahkan ketika masih hidup.


4. Bangun dari Tidur Panjang Dunia

Kehidupan dunia sering kali meninabobokan manusia.
Kedudukan, popularitas, dan kesenangan menjadi selimut hangat yang membuat jiwa terlena.
Manusia baru tersentak saat kehilangan, saat musibah datang, atau ketika ajal menjemput — barulah ia sadar bahwa semua yang dikejar hanyalah mimpi.

Maka, membangun kesadaran adalah langkah pertama untuk bangun dari tidur dunia.
Kesadaran bahwa hidup hanyalah sementara, bahwa semua amal akan dipertanggungjawabkan, dan bahwa kebahagiaan sejati bukan pada kepemilikan, tetapi pada ketundukan kepada Allah.


5. Hidup yang Bernilai Hanya Jika Sadar

Sesungguhnya, bukan panjang atau pendek umur yang membuat hidup berarti, tetapi seberapa dalam kesadaran kita dalam menjalaninya.
Bukan seberapa banyak harta yang dikumpulkan, tapi seberapa tulus niat yang ditanamkan.
Bukan seberapa tinggi jabatan yang dicapai, tapi seberapa taat kita menjalani perintah Tuhan.

Kematian bukan akhir dari kehidupan — justru di sanalah kehidupan sejati dimulai.
Dan hanya mereka yang hidup dengan kesadaran ilahi yang akan menyambutnya dengan tenang, karena mereka sudah terjaga bahkan sebelum dunia memanggil mereka tidur selamanya.


Penutup: Jadilah yang Terjaga Sebelum Terlambat

Hidup yang sejati bukan tentang banyaknya aktivitas, tetapi tentang keikhlasan niat.
Bukan tentang seberapa tinggi pencapaian, tetapi seberapa dekat hati dengan Pencipta.
Jangan tunggu kematian untuk sadar. Bangunlah sekarang — dari tidur panjang dunia, dari kelalaian, dari lupa pada tujuan hidup.

Karena pada akhirnya, mereka yang hidup dengan kesadaran adalah mereka yang benar-benar hidup, sedangkan mereka yang lalai, walaupun bernapas, sejatinya sedang tertidur.


By: Andik Irawan

Related posts

Leave a Comment